Chikungunya: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan

CuitanDokter.Com – Arikel tentang Chikungunya: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan tersedia di situs kami , waktu yang dibutuhkan untuk membaca tentang artikel Chikungunya: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan yaitu 5-10 menit , jangan sungkan untuk berbagi artikel mengenai Chikungunya: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan kepada teman anda ataupun sosial media yang anda punya , terimakasih .

Pusat Data Kementerian Kesehatan RI mencatat, sepanjang 2017 telah terjadi demam chikungunya sebanyak 126 kasus di 4 kabupaten/kota di Indonesia, 121 di antaranya dari Sulawesi Tengah, sementara 5 sisanya dari Provinsi Aceh. Sedangkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), sepanjang 2017 penyakit ini telah terjadi lebih dari 1,9 juta kasus di Asia. Lalu seberapa bahaya dan apa sebenarnya penyakit ini?

chikungunya-doktersehat

Apa Itu Chikungunya?

Chikungunya adalah infeksi virus yang menimbulkan demam secara tiba-tiba dan nyeri sendi yang parah. Virus  bernama alphavirus menyebar ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi, nyamuk yang sama seperti penyebab demam berdarah, yakni Aedes aegypti atau Aedes albopictus.

Sejarah Singkat

Chikungunya pertama kali mewabah di Afrika, tepatnya di Tanzania selatan pada tahun 1952. Nama penyakit ini berasal dari sebuah kata dalam bahasa Kimakonde yang berarti “melengkung”, merujuk kepada tubuh yang membungkuk akibat gejala nyeri sendi yang parah (arthralgia).

Wabah besar penyakit ini kembali terjadi di kepulauan Samudra Hindia di tahun 2005. Tak berselang lama, wabah ini kembali terjadi di India pada 2006 dan 2007. Beberapa negara lain di Asia Tenggara pun terkena dampaknya. Sejak 2005, India, Indonesia, Maladewa, Myanmar dan Thailand telah melaporkan lebih dari 1,9 juta kasus.

Penyakit ini kemudian pertama kalinya terjadi di Eropa pada tahun 2007, tepatnya di Italia timur laut. Ada 197 kasus yang tercatat selama wabah ini dan telah dipastikan bahwa wabah ditularkan oleh nyamuk.

Penyebab Chikungunya

Virus chikungunya ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk betina yang terinfeksi. Nyamuk menjadi terinfeksi ketika menggigit orang yang sudah terinfeksi virus sebelumnya. Nyamuk yang terinfeksi ini kemudian menyebarkan virus ke orang lain melalui gigitan. Perlu diingat, virus ini tidak menular dari orang ke orang. 

Virus chikungunya paling sering menyebar ke manusia oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, dua spesies yang juga menyebabkan demam berdarah dengue.

Biasanya, kedua nyamuk ini menggigit manusia ketika siang dan malam hari. Setelah digigit nyamuk yang terinfeksi, timbulnya penyakit ini biasanya antara empat sampai delapan hari tetapi juga dapat terjadi dua hingga dua belas hari.

Meski secara teori virus dapat menyebar melalui transfusi darah, tetapi belum ada laporan kasus hingga saat ini. 

Apa yang membedakan chikungunya dengan demam berdarah dengue? Yang membedakannya adalah virus penyebab penyakit. Chikungunya disebabkan oleh virus bernama alphavirus, sedangkan demam berdarah disebabkan oleh virus bernama flavivirus. Gejala dari kedua penyakit ini juga memiliki perbedaan. 

Faktor Risiko

Sejumlah kondisi dapat meningkatkan risiko terkena penyakit chikungunya, di antaranya:

  • Bepergian ke tempat yang terkena wabah
  • Tinggal di negara tropis
  • Tinggal di tempat dengan sanitasi yang buruk
  • Bayi yang baru lahir
  • Lansia di atas usia 65 tahun
  • Orang dengan kondisi medis tertentu seperti tekanan darah tinggi (hipertensi), penyakit jantung, atau diabetes.

Gejala Chikungunya

Kebanyakan orang yang terinfeksi virus chikungunya secara umum akan mengalami beberapa gejala berikut:

  • Demam
  • Nyeri sendi
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Pembengkakan sendi
  • Ruam

Terkadang, gejala chikungunya disertai dengan ruam makulopapular (mirip dengan campak), konjungtivitis (mata merah), mual, dan muntah. Penyakit ini umumnya tidak menyebabkan kematian, tetapi gejalanya bisa parah dan melumpuhkan.

Sebagian besar penderitanya akan merasa lebih baik dalam waktu seminggu. Sementara  pada beberapa orang, nyeri sendi dapat berlangsung selama berbulan-bulan.

Orang yang berisiko mengalami gejala yang lebih parah termasuk bayi baru lahir yang terinfeksi, lansia di atas usia 65 tahun, dan orang dengan kondisi medis seperti tekanan darah tinggi (hipertensi), diabetes, atau penyakit jantung.

Gejala Chikungunya Berdasarkan Usia

Ciri-ciri yang ditimbulkan dari penyakit chikungunya berbeda pada setiap usia, berikut penjelasannya:

Gejala pada anak akan dimulai dengan demam mendadak, kulit kemerahan. Ruam-ruam merah muncul setelah tiga sampai lima hari. Mata biasanya merah disertai tanda-tanda seperti flu. Umumnya anak bisa kejang karena demam. Demam hanya berlangsung selama tiga hari dengan tanpa atau sedikit perdarahan. 

Sementara pada remaja, demam biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan sendi, serta terjadi pembesaran kelenjar getah bening.

Gejala nyeri sendi dan otot sangat dominan dan sampai menimbulkan kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila berjalan. Kadang-kadang timbul rasa mual sampai muntah.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera dapatkan pertolongan dokter jika Anda atau anggota keluarga yang mungkin mengalami chikungunya, terutama jika Anda baru saja bepergian ke daerah di mana terjadi wabah yang sedang berlangsung. Dokter mungkin melakukan tes darah untuk memastikan penyebab penyakit. Jika didiagnosis chikungunya, menghindari gigitan nyamuk dapat membantu mencegah penyebaran virus.

Komplikasi

Chikungunya memang tidak berbahaya dan tidak menyebabkan kematian, tetapi penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, di antaranya:

1. Uveitis 

Radang lapisan di mata antara retina dalam dan lapisan fibrosa luar yang terdiri dari sklera dan kornea. Kondisi ini  ditandai dengan mata merah, sakit dan penglihatan kabur.

2. Retinitis

Adalah peradangan pada retina pada mata, yang secara permanen dapat merusak retina dan bahkan menyebabkan kebutaan.

3. Myocarditis

Peradangan otot jantung (miokardium). Kondisi ini dapat memengaruhi otot jantung dan sistem kelistrikan jantung, mengurangi kemampuan jantung untuk memompa dan menyebabkan irama jantung yang cepat atau tidak normal (aritmia).

4. Hepatitis

Adalah peradangan hati yang disebabkan oleh infeksi virus. Infeksi pada hati terdiri dari beberapa jenis, termasuk hepatitis A, B, C, D, dan E. Virus yang berbeda menyebabkan setiap jenis hepatitis.

5. Nephritis

Peradangan pada jaringan nefron dalam ginjal dan mungkin melibatkan glomeruli, tubulus, atau jaringan interstitial yang mengelilingi glomeruli dan tubulus.

6. Hemorrhage

Hemorrhage adalah nama yang digunakan untuk menggambarkan kehilangan darah. Kondisi ini bisa merujuk pada kehilangan darah di dalam tubuh, yang disebut pendarahan internal, atau kehilangan darah di luar tubuh, yang disebut pendarahan eksternal.

7. Meningoencephalitis

Peradangan selaput otak dan jaringan otak yang bersebelahan. Kondisi menyerupai meningitis dan ensefalitis. Meningoensefalitis dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, dan protozoa.

8. Myelitis

Peradangan sumsum tulang belakang yang dapat mengganggu respons normal dari otak ke seluruh tubuh, dan dari seluruh tubuh ke otak.

9. Guillain-Barré Syndrome

Adalah kelainan sistem kekebalan tubuh yang menyerang saraf. Kondisi ini menyebabkan kelemahan otot dan kelumpuhan.

10. Cranial Nerve Palsies

Adalah penurunan fungsi atau hilangnya fungsi satu atau lebih saraf kranial. Penyebabnya mungkin karena bawaan atau karena penyakit dan dan gangguan kesehatan lainnya.

Diagnosis

Penyakit ini dapat didiagnosis melalui beberapa metode. Pemeriksaan yang pertama melalui tes serologis, seperti enzyme-linked immunosorbent assays (ELISA), yang dapat memastikan keberadaan antibodi IgM dan IgG anti-chikungunya. Tingkat antibodi IgM paling tinggi sekitar tiga sampai lima minggu setelah timbulnya penyakit dan bertahan selama sekitar dua bulan.

Sampel yang dikumpulkan selama minggu pertama setelah timbulnya gejala chikungunya harus melalui pengujian dengan metode serologis dan virologis (RT-PCR).

Virus dapat diisolasi dari darah selama beberapa hari pertama infeksi. Berbagai metode reverse transcriptase-polymerase chain reaction (RT-PCR) tersedia, tetapi memiliki sensitivitas variabel. Beberapa cocok untuk diagnosis secara klinis. Produk RT-PCR dari sampel klinis juga dapat digunakan untuk genotipe virus, memungkinkan perbandingan dengan sampel virus dari berbagai sumber geografis.

Pengobatan Chikungunya

Penyakit ini tergolong tidak berakibat fatal, tetapi gejalanya bisa parah dan melumpuhkan. Kebanyakan penderitanya akan segera pulih dalam waktu seminggu, tetapi nyeri sendi bisa berlangsung selama berbulan-bulan. Bahkan setelah satu tahun, 20 persen penderitanya mengalami nyeri sendi berulang.

Tidak ada obat khusus untuk mengobati chikungunya, tetapi dokter hanya menyarankan untuk melakukan tindakan yang sederhana, seperti

  • Istirahat yang cukup untuk membantu memulihkan gejala
  • Minum banyak cairan untuk mencegah dehidrasi
  • Mengonsumsi makanan sehat agar tubuh tetap terpenuhi nutrisi

Obat-obatan

Adapun obat-obatan yang diresepkan dokter hanya akan membantu meredakan gejala, seperti demam dan nyeri sendi. Obat-obatan Ini termasuk:

1. Ibuprofen

Adalah obat yang dapat meredakan demam pada anak dan mengatasi nyeri ringan hingga nyeri sedang. Tetapi, orang yang alergi, ibu hamil dan asma tidak bisa menggunakan obat ini.

Penggunaan obat ini harus hati-hati, karena efek samping ibuprofen menimbulkan sembelit, diare, insomnia, pusing, ruam, mual, dan muntah.

2. Naproxen

Adalah obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) yang bermanfaat untuk meredakan nyeri sendi karena peradangan atau disebut yang arthritis. Naproxen juga digunakan untuk mengatasi nyeri otot hingga sakit kepala.

Sayangnya, bagi Anda yang memiliki kondisi medis tertentu tidak diperbolehkan mengonsumsi obat ini, karena dikhawatirkan dapat memperburuk gejala. Kondisi ini termasuk: 

  • Kekurangan darah (anemia)
  • Gagal jantung kongestif
  • Penyakit ginjal
  • Perdarahan usus
  • Perdarahan lambung
  • Dispepsia kronis
  • Peptik ulseratif
  • Edema
  • Hepatitis
  • Sensitivitas terhadap aspirin
  • Riwayat operasi jantung

Obat Naproxen mungkin dapat menimbulkan efek samping, termasuk kantuk, pusing kepala, mual, gangguan pencernaan (sembelit, sakit perut, sakit ulu hati), gatal, dan palpitasi.

3. Acetaminophen

Adalah jenis obat analgesik dan antipiretik. Obat ini juga dikenal dengan nama Paracetamol. Manfaat Acetaminophen secara umum sebagai obat penghilang rasa nyeri dan penurun demam. Sejumlah kondisi yang dapat diatasi dengan obat ini adalah sakit kepala, sakit gigi, nyeri punggung, osteoartritis, nyeri haid, nyeri atau sakit akibat pilek dan flu, demam

Obat ini juga berpotensi menimbulkan efek samping. Beberapa efek samping yang paling mungkin terjadi adalah  sakit kepala, mual, dan ruam

Perlu diperhatikan! Jangan minum aspirin dan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) sebelum gejala yang Anda rasakan dipastikan bukan demam berdarah, ini untuk mengurangi risiko perdarahan. Atau jika minum obat untuk kondisi medis lainnya, konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakannya.

Jika Anda menderita chikungunya, cegah gigitan nyamuk pada minggu pertama penyakit Anda. Selama minggu pertama infeksi, virus penyakit ini dapat ditemukan dalam darah dan ditularkan dari orang yang terinfeksi ke nyamuk melalui gigitan nyamuk. Nyamuk yang terinfeksi ini kemudian dapat menyebarkan virus ke orang lain.

Baca Juga: Ragam Obat Chikungunya di Apotek yang Bisa Redakan Gejalanya

Obat Alami untuk Chikungunya

Selain obat-obatan dan melakukan gaya hidup yang sehat, berikut beberapa obat chikungunya dari berbagai bahan alami:

1. Garam Epsom

Garam ini mengandung kristal magnesium sulfat yang mengurangi peradangan dan rasa sakit. Selain itu, air hangat bisa meningkatkan sirkulasi darah dalam tubuh. Caranya mudah, Anda hanya mencampurkan garam Epsom ke dalam bak air hangat untuk berendam.

2. Kunyit

Bumbu dapur yang satu ini juga sangat efektif untuk mengurangi rasa sakit yang disebabkan oleh virus chikungunya. Kunyit diketahui mengandung curcumin yang memiliki agen antioksidan dan antiinflamasi yang tinggi, yang dapat membantu meredakan rasa sakit.

3. Jahe

Selain kunyit, bahan dapur ini juga memiliki sifat antiinflamasi yang dapat membantu mengatasi rasa sakit dan mempercepat penyembuhan.

4. Air Kelapa

Jika mengalami gangguan hati, di situlah virus chikungunya akan menyerang setelah menginfeksi tubuh. Kondisi ini dapat dibantu dengan meminum air kelapa karena memiliki manfaat yang sangat bagus untuk hati. Air kelapa juga dapat membantu mempercepat pemulihan dan mengurangi gejala.

5. Kemangi

Daun yang beraroma khas ini dapat membantu mengurangi suhu tubuh, karena mengandung antioksidan yang meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan membantu dalam pemulihan cepat. Anda hanya cukup mengunyah daun kemangi sekali atau dua kali sehari atau merebus beberapa daun kemangi dalam air dan meminumnya.

6. Biji Bunga Matahari dan Madu

Obat chikungunya yang alami berikutnya dengan meminum campuran biji bunga matahari bubuk dan madu, yang bisa membantu menghilangkan rasa sakit sendi. Biji bunga matahari kaya akan Zinc dan Vitamin E yang penting untuk sistem kekebalan tubuh. Sementara madu dikenal karena sifat anti-inflamasinya.

Pencegahan

Mengingat penularan penyakit ini disebabkan oleh gigitan nyamuk yang terinfeksi, cara mencegah yang terbaik adalah mengurangi kontak dengan nyamuk. Berikut langkah-langkah yang dapat Anda lakukan untuk mencegah chikungunya:

  • Memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuh, seperti pakaian lengan panjang dan celana panjang.
  • Menggunakan lotion yang mengandung DEET (N, N-Diethyl-meta-toluamide) atau picaridin pada kulit untuk mengusir nyamuk.
  • Menggunakan diffuser yang mengandung minyak lemon eucalyptus untuk mengusir nyamuk.
  • Menggunakan AC ruangan untuk mencegah nyamuk memasuki kamar.
  • Menggunakan kelambu di kamar tidur.
  • Berada di dalam rumah ketika pagi dan sore hari, karena nyamuk berkeliaran di waktu ini.
  • Menghindari bepergian ke daerah yang mengalami wabah chikungunya.

Pencegahan Chikungunya dengan Gerakan 3M Plus

Sementara untuk mengurangi berkembang biaknya nyamuk penyebab penyakit chikungunya adalah dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus, di antaranya: 

Membersihkan atau menguras tempat yang menjadi penampungan air seperti bak mandi, kendi, toren air, drum dan tempat penampungan air lainnya.

Menutup rapat tempat penampungan air seperti bak mandi maupun drum. Langkah ini juga diartikan sebagai kegiatan mengubur barang bekas agar lingkungan bersih dan mengurangi sarang nyamuk.

  • Mendaur Ulang Barang Bekas

Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang-barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk penyebab chikungunya maupun demam berdarah.

Sementara maksudkan dari Plus-nya adalah upaya pencegahan seperti menaburkan bubuk larvasida pada penampungan air, menanam tanaman pengusir nyamuk, dan memasang jaring pada ventilasi rumah.

 

 

Informasi kesehatan ini telah ditinjau oleh dr. Jati Satriyo

 

 

  1. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia 2017. https://pusdatin.kemkes.go.id/folder/view/01/structure-publikasi-pusdatin-profil-kesehatan.html. (Diakses 5 Februari 2020)
  2. Chikungunya. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/chikungunya. (Diakses 5 Februari 2020)
  3. Newman, Tim. 2017. What you need to know. https://www.medicalnewstoday.com/articles/306828.php. (Diakses 5 Februari 2020)
  4. Chikungunya Virus. https://www.cdc.gov/chikungunya/index.html. (Diakses 5 Februari 2020)
  5. Chikungunya Risk factors. https://www.wikidoc.org/index.php/Chikungunya_risk_factors. (Diakses 5 Februari 2020)
  6. What is chikungunya fever, and should I be worried?. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/infectious-diseases/expert-answers/what-is-chikungunya-fever/faq-20109686. (Diakses 5 Februari 2020)
  7. Upaya Pencegahan DBD dengan 3M Plus. http://promkes.kemkes.go.id/upaya-pencegahan-dbd-dengan-3m-plus. (Diakses 5 Februari 2020)
  8. Prevent & Treat Chikungunya With These Home Remedies. https://www.dabur.com/odomosprotect/blog/prevent-and-treat-chikungunya-with-these-home-remedies. (Diakses 5 Februari 2020)

Artikel Asli :https://doktersehat.com/chikungunya/